vSphere 5 – Pemahaman Istilah dan Konsep Dasar (Bagian Dua)

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang ada di sini.

Pada artikel kali ini kita akan membahan konsep dasar dan best practice penggunaan vSphere 5 dalam skala perusahaan SMB. Gue akan coba berikan beberapa tips yang nanti mungkin dapat menjadi masukan buat Anda yang ingin membangun sebuah teknologi virtualisasi namun dengan dana terbatas. Bagi yang ingin menambahkan, monggo silahkan isi komentar di bawah.

Konsep Dasar

Dalam dunia komputer, secara harfiah virtualisasi artinya menyembunyikan karakteristik fisik sumber daya dari bagaimana cara sistem lain, aplikasi atau pengguna berinteraksi dengan sumber daya tersebut. Dari sisi pengguna tentu tidak akan merasakan perbedaan tersebut. Tinggal bagaimana kita mengatur resources tersebut dengan baik saja. Penggunaan teknologi virtualisasi sangat jelas banyak keuntungannya, pertama dari sisi efisiensi penggunaan hardware. Teknologi konvensional memaksa kita menggunakan satu buah server untuk diinstal dengan satu buah sistem operasi saja. Bayangkan jika Anda beli sebuah server yang notabene hanya untuk dijalankan sebagai DNS server atau cuma sebagai VPN Server. Gue bisa tebak maksimala resource yang digunakan mungkin hanya 10-20%. Sisanya nganggur, benar kan? Coba deh sekarang cek server kalian berapa sih utilisasi CPU/RAM nya? bahkan ketika peak paling tidak sampai 50% kan?

Keuntungan kedua ada kaitannya dengan masalah global warming. Loh kok bisa? Ya, dengan menggunakan teknologi virtualisasi kita secara tidak langsung sudah bersahabat terhadap lingkungan yaitu dengan cara mengurangi konsumsi listrik di production environmetn. Hitungan sederhana jika satu buah server menggunakan power supply 400 watt redundant (total 800 watt) dikali jumlah server fisik, misal Anda memiliki enam. Maka total sudah hampir 5kilowatt. Bandingkan jika Anda hanya menggunakan dua buah server fisik (di dalamnya ada 6 virtual server) Anda hanya menghabiskan daya 1.6kilowatt alias 1/3 dari total daya sebelumnya.

Benefit yang ketiga adalah efisiensi penempatan dan manajemen kabel. Jika dengan enam server fisik kita perlu menyiapkan rack server yang banyak dan kabel jaringan atau kabel power yang berseliweran dimana-mana tidak jika Anda menggunakan teknologi virtualisasi. Anda hanya perlu menempatkan dua buah server dan kabel untuk dua server fisik dengan mudah dan tidak ribet.

Terakhir adalah waktu maintenance semakin singkat karena kita hanya perlu melakukan maintenance terhadap dua server fisik. Sederhana dan simpel, kan?

Ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan terhadap saya:

  • Apakah performa yang dihasilan oleh VM akan sama persis dengan server fisik?
  • Jika satu server fisik rusak apakah semua VM yang di dalamnya akan rusak juga?

Pertanyaan pertama selalu gue jawab, ya hampir sama jika penggunaan teknologi untuk datastore (tempat meletakkan VM) dan jenis koneksi jaringan yang digunakan sudah the fastest media. Kemudian pertanyaan kedua gue jawab ya semua VM di dalamnya pasti ikut rusak. Logikanya jika Anda membawa sekeranjang buah tomat jika keranjangnya rusak maka semua isi didalamnya alias si tomat pasti jatuh dan hancur berantakan. Oleh karena itu masalah ini dapat diantisipasi dengan disaster protection dan dikombinasikan dengan recovery planning yang baik.

Balik lagi tadi gue udah bilang bahwa vSphere tidak akan berjalan baik apabila tidak dibuat perencanaan yang matang. Lebih lagi apabila kita ingin menerapkan fungsi-fungsi advance aplikasi tersebut. So, mulailah memikirkan dari hal yang paling sederhana, lihat system requirement dari vSphere. Ingat bahwa vSphere tidak seperti HyperV yang berjalan di atas OS melainkan langsung berjalan di atas bare-metal a.k.a hardware server. Pemahaman ini yang kadang luput dari kita sebagai seorang engineer yang baru mulai belajar virtualisasi tingkat lanjut. Belum lagi banyaknya produk sejenis dengan penamaan yang mirip-mirip acapkali membuat kita tambah bingung produk mana yang lebih cocok dengan kebutuhan production environment kita.

Jujur memang dari segi biaya khususnya license vSphere memang mahal. Sekali lagi.. MAHAL. Tapi jika ditilik dari sisi stabilitas, fitur dan subscription yang bagus maka vSphere merupakan software virtualisasi yang benar-benar powerful. Jadi ya menurut gue sih berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan. Kalau mau yang versi open source mungkin Anda dapat melirik produk Proxmox. Tentunya Anda dituntut harus mengerti paling tidak console linux agar dapat tshoot hingga low level.

Sebelum Anda menentukan jenis hardware server yang akan digunakan sebaiknya lihat dulu HCL vSphere agar nanti tidak ada masalah komptibilitas antara vSphere dan hardware server. Setelah itu tentukan jenis teknologi yang akan digunakan atau bisa juga Anda mencoba versi trial untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan ketika memutuskan jenis lisensi yang mau dibeli.

Beberapa jenis lisensi vSphere yang ditawarkan oleh VMWare adalah sbb;

1. vSphere Essentials Kit -> Cocok untuk perusahaan yang mau mulai migrasi menggunakan teknologi virtualisasi. Terdiri dari lisensi untuk 3 server (host) yang masing-masing server memiliki dual soket prosesor plus lisensi vCenter Ops Foundation server & vCenter essentials

2. vSphere Essentials Plus Kit -> Memiliki semua fitur vSphere Essentials Kit ditambah dengan fitur HA (High Availability), vShield Endpoint (firewall advance dalam host), vSphere Data Protection (Untuk Backup Data VM), vMotion (bagian dari HA) & vSphere Replication (Untuk deduplikasi data backup VM)

3. vSphere Standard -> Silahkan langsung ke TKP aja ya untuk lebih jelasanya 😀

Selain daripada yang gue sebutkan di atas adalah lisensi kelas enterprise atau addon license.

Selanjutnya apabila Anda sudah memiliki hardware server yang sesuai dengan HCL silahkan Anda lakukan pembelian. Jika memungkinkan beli dua atau tiga hardware yang sama minimal CPU & jumlah RAM-nya, atau lebih baik jika pure identical antara server-server tersebut. Hal ini terkait dengan jumlah lisensi yang dibeli dan teknologi yang nanti akan digunakan. Contoh misalkan Anda sebelumnya telah beli lisensi vSphere Essentials yang dapat digunakan untuk 3 server fisik dengan batasan 2 soket prosesor tiap servernya. Nah, jika perusahaan Anda memiliki budget untuk beli 3 server sebaiknya beli 3 server identical, atau minimal beli 2 identical. Satu server untuk spare pembelian di tahun berikutnya. Setidaknya dengan dua server nantinya jika kita sudah upgrade license menjadi vSphere Essentials Plus maka kita bisa langsung menggunakan fitur vMotion atau HA.

Bersambung ke bagian ketiga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *