{"id":946,"date":"2012-05-07T12:35:36","date_gmt":"2012-05-07T05:35:36","guid":{"rendered":"http:\/\/sebayan9.wordpress.com\/?p=946"},"modified":"2012-05-07T12:35:36","modified_gmt":"2012-05-07T05:35:36","slug":"memahami-prinsip-kerja-raid-bagian-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rachmadona.net\/?p=946","title":{"rendered":"Memahami Prinsip Kerja RAID \u2013 Bagian 2"},"content":{"rendered":"<p>Yup, sekarang kita masuk ke bahasan selanjutnya. Masih tentang RAID, yaitu RAID 1 dan RAID 5.<\/p>\n<p><strong>RAID 1<\/strong><\/p>\n<p>RAID 1 (satu) merupakan konfigurasi RAID mirroring (cermin) yang artinya konten pada sebuah HDD\u00a0merupakan cerminan\u00a0HDD lainnya yang tergabung dalam RAID 1 tersebut.<\/p>\n<p>Sistem kerja dari RAID 1 adalah penyebaran blok\u00a0data pada sebuah\u00a0HDD disebar\u00a0ke HDD yang lainnya sehingga setiap HDD memiliki konten\/isi data yang sama persis atau identik. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.<\/p>\n<p align=\"center\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sebayan9.files.wordpress.com\/2012\/05\/screenshot037_small.jpg\" alt=\"ScreenShot037\" align=\"middle\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p align=\"center\"><span style=\"font-size:xx-small;\">Image source : <\/span><span style=\"font-size:xx-small;\">http:\/\/www.thegeekstuff.com\/<\/span><\/p>\n<p>Blok data A, B dan C pada Disk 1 akan dicerminkan ke Disk 2 sehingga kedua HDD tersebut menjadi sama isi dan konfigurasinya. Apabila terjadi kerusakan pada salah satu HDD maka HDD lainnya dapat menggantikan fungsi dari HDD yang rusak tersebut.<\/p>\n<p>Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 1 dengan Harddisk B (merk Seagate, 7200RPM 8Mb cache, 320GB). Maka hasilnya adalah *<em>tidak tahu<\/em>* karena Saya belum pernah mencobanya<img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sebayan9.files.wordpress.com\/2012\/05\/smile10.gif\" alt=\"\" \/>. Sepertinya harus menggunakan HDD yang identik agar hasil yang didapat bisa maksimal.<\/p>\n<p>Jadi kita anggap saja HDD A akan dikonfigurasi RAID 1 dengan HDD yang identik (A&#8217;). Sehingga hasilnya didapat:<\/p>\n<blockquote><p>HDD A (500GB) + HDD A&#8217; (500GB) = 500GB<\/p><\/blockquote>\n<p>Apabila terjadi kerusakan secara fisik pada HDD A maka HDD A&#8217; dapat menggantikan secara langsung tanpa perlu melakukan <em>reboot\/shutdown\/logoff<\/em> komputer sehingga <em>downtime<\/em> menjadi tidak diperlukan.<\/p>\n<p>Kebutuhan HDD untuk membentuk konfigurasi RAID 1 adalah minimal 2 HDD dan disarankan dengan merk, tipe dan kapasitas yang sama.<\/p>\n<p>Konfigurasi RAID 1 cocok untuk sistem yang membutuhkan reliability dan ketersediaan data yang tinggi (Highly Available).<\/p>\n<p><strong>RAID 5<\/strong><\/p>\n<p>Raid 5 merupakan konfigurasi RAID yang menggunakan\u00a0teknologi <em>parity<\/em> (penyeimbang) yang terdistribusi, sehingga memperkecil potensi bottleneck yang terjadi akibat multiple akses\u00a0yang dilakukan\u00a0ke HDD RAID 5.<\/p>\n<p>Mari kita lihat ilustrasinya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" align=\"center\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sebayan9.files.wordpress.com\/2012\/05\/screenshot055_small.jpg\" alt=\"ScreenShot055\" align=\"middle\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p align=\"center\"><span style=\"font-size:xx-small;\">Image source : <\/span><span style=\"font-size:xx-small;\"><a>http:\/\/www.thegeekstuff.com\/<\/a><\/span><\/p>\n<p align=\"left\">Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa parity (p1, p2 &amp; p3) terdistribusi ke setiap HDD yang dikonfigurasi RAID 5. Jumlah minimum HDD untuk dapat dikonfigurasi RAID 5 adalah 3 buah. Selanjutnya, berlaku rumus (n+1, n&gt;1).<\/p>\n<p align=\"left\">Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID\u00a05 dengan Harddisk B &amp; C (identik dengan HDD A).<\/p>\n<p align=\"left\">Maka hasilnya adalah sbb;<\/p>\n<blockquote>\n<p align=\"left\">HDD A (500GB) +\u00a0HDD B (500GB) + HDD\u00a0C (500GB) = 1000GB (1 Terra)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p align=\"left\">Hanya sekitar 70% dari total seluruh kapasitas gabungan HDD RAID 5 yang aktualnya dapat digunakan.<\/p>\n<p align=\"left\">Konfigurasi RAID 5 sangat bagus dari segi price\/perfomance. Oleh karena itu sangat disarankan untuk digunakan pada sistem yang menggunakan database secara intens, namun database yang dimaksud hanya diakses baca saja (read only), bukan untuk akses tulis (access write).<\/p>\n<p align=\"left\">OK, sekian untuk pembahasan RAID pada artikel kali ini. Di artikel selanjutnya kita akan mencoba membahas tentang contoh gabungan dari teknologi RAID, yaitu RAID 1+0 &amp; 0+1.<\/p>\n<p align=\"left\">Semoga bermanfaat.<\/p>\n<div class=\"bjtags\">Tags: <a href=\"http:\/\/technorati.com\/tag\/Understanding+RAID\" rel=\"tag\">Understanding+RAID<\/a>, <a href=\"http:\/\/technorati.com\/tag\/RAID+1\" rel=\"tag\">RAID+1<\/a>, <a href=\"http:\/\/technorati.com\/tag\/RAID+5\" rel=\"tag\">RAID+5<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yup, sekarang kita masuk ke bahasan selanjutnya. Masih tentang RAID, yaitu RAID 1 dan RAID 5. RAID 1 RAID 1 (satu) merupakan konfigurasi RAID mirroring (cermin) yang artinya konten pada sebuah HDD\u00a0merupakan cerminan\u00a0HDD lainnya yang tergabung dalam RAID 1 tersebut. Sistem kerja dari RAID 1 adalah penyebaran blok\u00a0data pada sebuah\u00a0HDD disebar\u00a0ke HDD yang lainnya sehingga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,6],"tags":[],"class_list":["post-946","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-computer","category-information"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=946"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/946\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rachmadona.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}